Alternate Text
Tips & Advice 6-12 Bulan

LANGKAH PERTAMA SI KECIL

Mengenali Tanda-tanda Kapan Bayi Bisa Berjalan


Tak terasa si Kecil sudah semakin besar. Mulai dari berguling, merangkak, kini dia pun mulai belajar berjalan. Banyak pertanyaan di kepala Anda. Sudah sesuaikah waktunya si Kecil belajar berjalan? Apa saja yang harus dipersiapkan dan diwaspadai saat si Kecil mulai belajar berjalan? Perlukah alat bantu seperti baby walker? Yuk kita cari tahu bersama-sama mengetahui tanda-tanda kapan bayi bisa berjalan.

Kapan Belajar Berjalan?


Masing masing anak memiliki usia yang berbeda dalam kemampuan berjalan. Ada bayi yang dapat mulai berjalan pada usia 9 bulan, ada pula yang baru mulai berjalan antara usia 12-17 bulan.
Berjalan memang bukan kegiatan mudah. Otot tubuh, serta otot kaki dan lengan, harus kuat untuk menopang berat badan bayi yang sudah mencapai 10-14 kg. Selain otot yang kuat, kemampuan koordinasi seluruh tubuh, mulai dari kepala, badan, hingga kaki juga diperlukan. Selain itu, bayi memiliki perbandingan ukuran tangan, kaki, dan kepala yang berbeda dibandingkan balita. Dengan kaki dan tangan yang masih relatif pendek, kepalanya masih relatif besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi bayi ini untuk menjaga keseimbangan. Karenanya, sebelum anda mengajarkan anak anda berjalan pastikan bahwa gerakan yang dimilikinya telah didukung oleh otot tubuh, otot kaki dan juga lengannya sehingga mampu menopang badannya.
Koordinasi dan keseimbangan bayi dilatih melalui kegiatan merangkak dan merambat selama berbulan-bulan. Namun tidak semua bayi melalui tahap merangkak sebelum ia berdiri dan berjalan. Hal ini wajar, selama ia mengalami kemajuan dalam kemampuan menggunakan anggota tubuh untuk bergerak. Ketika bayi mulai siap belajar berjalan, biasanya bayi mengawali dengan bertumpu pada alat bantu seperti dinding. Saat bayi berusaha mengangkat tubuhnya dan mencoba melangkah, biasanya ia akan mengawalinya dengan posisi menyamping karena tangannya sibuk memegang alat bantu sebagai penopang tubuhnya.
Namun tak perlu khawatir jika bayi kemudian justru memilih kembali merangkak. Ini bukan karena ia takut jatuh. Merangkak adalah refleks aman bayi saat ia belum menemukan keseimbangannya. Merangkak membantunya menjelajah dengan lebih aman dan efisien.

Berlatih Berjalan

Proses belajar berjalan si Kecil adalah momen luar biasa, baik bagi si Kecil maupun Anda. Ajari dia perlahan-lahan, selangkah demi selangkah:
•    Berdiri Tegak. Bantu anak berdiri tegak dan menjejakkan kedua telapak kakinya dengan mantap tanpa bantuan selama setengah menit. Bila anak jatuh duduk, beri semangat agar bayi mau belajar bangkit berdiri sendiri. Bila tahap ini sudah dilewati dan balita mau mencoba melangkah sendiri, maka dia siap untuk berjalan dengan berpegang pada kedua tangan Anda.


•    Pegang tangan.  Beri anak kesempatan untuk berjalan dengan salah satu atau kedua tangannya sambil memegang tangan Anda dalam jarak dekat. Kegiatan ini cukup melelahkan bagi bayi, karenanya terus beri semangat pada bayi.


•    Berdiri di boks. Biarkan balita berdiri di salah satu sudut boksnya yang diberi pelindung (bumper) di sekeliling bagian dalamnya. Ajarkan dia berpegangan pada pagar boks, lalu biarkan dia berjalan menyusurinya. Cara ini cukup aman karena bila bayi jatuh, tubuhnya akan membentur kasur boks atau bantal. Kuatkan diri Anda membiarkan balita jatuh-bangun dalam usahanya untuk berjalan.


•    Ambil mainan. Letakkan mainan favoritnya dalam jarak tertentu. Semangati anak agar mau berjalan untuk meraih mainannya itu. Cara ini akan menguatkan otot-otot kaki dan tungkai.


•    Mendorong. Beri anak mainan yang dapat didorong sebagai alat bantu si kecil belajar berjalan. Anak di rentang usia ini memang senang mendorong-dorong benda, bukan? Jangan lupa menyemangatinya agar ia merasa senang.


•    Pindah barang. Beri anak mainan truk atau gerobak yang dapat ditarik dengan tali. Ajak dia memindah-mindahkan mainan dari satu tempat ke tempat lain. Jangan lupa, faktor psikologi juga jadi faktor yang mempengaruhi kecepatan berjalan. Ada bayi yang yakin dengan kemampuannya berdiri dan mulai melangkah. Ada pula yang sulit meyakini kemampuannya karena dianggap akan membahayakan dirinya. Karenanya, beri pujian atas usahanya untuk belajar berjalan.

Berjalan dengan Aman


Pastikan rumah menjadi tempat yang aman saat bayi Anda mulai belajar berjalan:
1.    Ciptakan suasana aman
Pertama kali mengajarkan anak berjalan, wajar jika seringkali Anda khawatir anak terjatuh. Untuk mengurangi rasa khawatir Anda sekaligus mendorong rasa percaya diri anak, pasang karpet yang tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu lunak sehingga mudah dalam belajar berjalan.


2.    Lindungi si Kecil
Singkirkan barang-barang yang berpotensi mengganggu ruang gerak anak, seperti meja, kursi, dan barang pecah belah. Tutup akses menuju tangga dengan memasang pintu yang dilengkapi kunci. Tinggi pintu tersebut harus melebihi tinggi badan anak agar tak bisa dilangkahi. Pilih perabot yang kokoh dan berat agar tidak mudah terguling ketika tersenggol atau menjadi tempatnya berpegangan. Singkirkan benda-benda yang berpotensi bahaya: kabel dan stop kontak, anak tangga, barang pecah belah dan pernak pernik yang mudah terjatuh atau terbalik, cairan yang bisa tumpah dan membuat anak terpeleset. Gunakan pelindung perabot (rounder) yang tersedia di toko-toko furnitur, untuk membuat sudut tajam pada perabot menjadi lebih aman.


3.    Bantu anak bergerak.
Jika si kecil ngotot ingin naik turun tangga atau kursi, biarkan saja. Hal ini justru bisa memupuk rasa percaya dirinya, lho. Namun pastikan Anda memegang tangan anak dan mengawasinya selalu.


4.    Gunakan alas kaki yang cocok
Biarkan kaki anak tanpa alas kaki, saat belajar berjalan. Selain lebih leluasa mencari keseimbangan, hal ini bertujuan melatih kepekaan indera peraba di kakinya. Namun jika harus memakai alas kaki saat berlatih berjalanKetika melatih anak anda belajar berjalan, perhatikan alas kaki yang digunakan. Jangan sampai menghambat proses belajar anak anda. Pilih alas kaki dengan sol datar dan lembut sehingga mampu menopang sekaligus menstimulasi otot kaki anak untuk berjalan dengan baik dan leluasa.


5.    Pastikan berat badan anak ideal
Ketika anak mengalami kelebihan berat badan, kemampuan anak untuk berjalan akan terhambat. Pastikan beras badan si Kecil dalam batas normal sehingga menunjang kemampuan berjalan. Perhatikan asupan nutrisi dalam makanannya agar tumbuh kembangnya optimal.


Perlukah Baby Walker?


Laporan dari American Academy of Pediatrics tahun 2001 mengatakan bahwa pada tahun 1999 diperkirakan sebanyak  8800 anak usia dibawah 15 bulan dibawa ke rumah sakit bagian gawat darurat karena kecelakaan akibat baby walker.
Meski tampaknya membuat bayi lebih aman dan membantu bayi belajar berjalan, baby walker justru memiliki lebih banyak dampak negatif bagi perkembangan bayi.
•    Lebih Malas. Memakai Baby walker justru mengurangi keinginan anak untuk berjalan, karena adanya alternatif yang lebih mudah, yaitu berjalan lebih cepat dengan Baby walker.


•    Menggangu Kerja Otot. Baby walker menguatkan otot yang salah. Kedua tungkai bawah memang diperkuat, tetapi tungkai atas dan pinggul bayi tidak terlatih. Padahal tungkai atas dan pinggul sangat penting untuk berjalan. Baby walker juga mengakibatkan bayi tidak dapat melihat kaki dan anak kakinya. Karena membuat bayi berdiri berjinjit dengan ujung jari kaki, otot kaki justru menjadi tegang dan bayi tidak mempelajari cara menyeimbangkan tubuh.


•    Lebih Berisiko. Baby walker menjadikan bayi lebih tinggi. Hal ini membuat bayi mencapai barang-barang yang letaknya tinggi. Baby walker juga membuat bayi lebih mudah bergerak sehingga dapat bergerak sepanjang ruangan dan meraih benda-benda yang berbahaya, misalnya peranti makan di atas meja atau kabel listrik di dinding. Baby walker juga bisa membuat bayi terjungkal.