Alternate Text
penyebab alergi makanan
Mom's Pedia Balita

Ini Penyebab Alergi Makanan pada Bayi

Alergi makanan pada bayi merupakan gangguan kesehatan yang sering terjadi. Alergi merupakan reaksi sistem imunitas tubuh seseorang terhadap zat asing yang masuk dengan melalui cara dihirup, disuntikkan, ditelan, atau bahkan hanya disentuh.

Sebagai contoh, pada anak yang alergi seafood, ketika dia mengonsumsi udang, maka protein udang yang masuk, akan dianggap berbahaya oleh sistem kekebalan tubuh, sehingga menyerang organ tubuh seperti kulit yang menjadikan dia gatal bahkan sesak nafas.

Faktor keturunan atau genetik sering diasumsikan sebagai penyebab alergi pada bayi. Apabila ayah atau ibu memiliki riwayat alergi, maka 20-30% kemungkinan sang buah hati juga berisiko mengalami alergi.

Namun alergi yang diturunkan kepada bayi belum tentu jenis alergi tertentu yang sama diderita oleh orangtuanya. Misalnya, bila Ibu memiliki alergi pada saluran pernapasan (alergi debu, serbuk bunga), alergi bulu hewan, atau alergi makanan tertentu, maka kemungkinan 50% bayi Ibu menderita alergi yang sama.  Dan bila kedua orang tua bayi memiliki alergi, kemungkinannya 75% atau bahkan lebih.

Hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya alergi adalah lingkungan dan makanan. Misalnya, Si Kecil terkena gigitan serangga  dapat membuat kulitnya mengalami pembengkakan, gatal, atau memerah. Sementara untuk faktor makanan akan dijelaskan di bawah ini.

Makanan penyebab alergi pada bayi

Salah satu penyebab utama alergi yang sering terjadi pada Si Kecil adalah berasal dari makanan. Lantas, makanan saja yang bisa memicu munculnya alergi? Simak ulasannya berikut ini:

Telur

Untuk jenis telur ini dapat bersumber dari ayam, bebek, maupun telur puyuh. Bagian telur, terutama putih telur, bisa menyebabkan reaksi alergi. Akibat yang ditimbulkan biasanya berupa rasa gatal di sekujur tubuh. Kulit tampak kemerahan ataupun bengkak-bengkak.

Susu

Reaksi alergi yang ditimbulkan oleh susu sapi/kambing bisa berupa diare atau muntah. Bayi yang tidak dapat mengonsumsi ASI (pada kasus tertentu) dan menderita alergi terhadap susu sapi, tidak dianjurkan untuk mengonsumsi susu formula biasa.

Beberapa penanganan yang dilakukan oleh dokter anak umumnya akan menyarankan susu formula khusus yang berasal dari susu sapi namun sudah diproses sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan alergi pada bayi.Bisa juga anak tak hanya alergi pada susu sapi, tapi juga produk yang memakai susu sapi, seperti es krim, keju, dan sebagainya. Namun bukan berarti anak lantas tak boleh minum susu. Sebagai pengganti susu sapi, masih ada susu dari bahan kedelai.

Ikan

Beberapa jenis ikan yang sering menyebabkan alergi adalah tuna dan salmon. Ikan dapat menyebabkan reaksi alergi pada sebagian bayi. Oleh karena itu, Ibu sebaiknya jangan dulu memberi ikan pada bayi sebelum usianya mencapai 6 bulan karena ini masih dalam masa pemberian ASI eksklusif. Setelah usia bayi Ibu mencapai 8 atau 12 bulan, ikan bisa menjadi bagian dari menu yang seimbang.

Gandum

Alergi karena jenis makanan yang mengandung gandum seperti roti atau sereal, dapat mengakibatkan berbagai gejala alergi seperti gatal-gatal, sesak napas dan mual, termasuk reaksi alergi fatal yang disebut anafilaksis. Bagi bayi dengan alergi gandum, sebaiknya menghindari makanan yang mengandung gluten dan semolina. Sebagai alternatif, Ibu bisa menggunakan beras atau jagung.

Kacang Tanah

Protein nabati yang terdapat dalam kacang tanah termasuk tinggi. Beberapa makanan pendamping ASI yang mengandung kacang tanah dapat menyebabkan rasa gatal pada tubuh bayi, juga munculnya bisul-bisul dengan warna kemerahan pada area tangan dan wajah bayi.

Kacang Kedelai

Bukan hanya kacang tanah, alergi terhadap kacang kedelai juga sering ditemukan pada bayi yang diberikan susu dengan kandungan kedelai. Makanan lain yang mengandung protein keledai dan dapat menimbulkan gejala alergi pada anak-anak adalah miso soup, saus kedelai, serta makanan dengan kandungan minyak kedelai.

Tanda-tanda awal bayi mengalami alergi

Ketika telah mengalami alergi, maka tubuh akan menampakkan beberapa gejala awal, antara lain sebagai berikut:

  • Lebih rewel karena merasakan ketidaknyamanan
  • Kembung disertai dengan diare
  • Bengkak di area wajah, bibir, serta lidah
  • Gatal-gatal pada kulit
  • Batuk atau bersin
  • Muntah
  • Nafas tersengal-sengal
  • Kulit memerah
  • Mata bayi tampak merah dan berair

Cara Mengatasi Alergi pada Bayi

Ketika sang buah hati mengalami alergi, tentunya akan membuat Ibu semakin waspada bila reaksi alergi terjadi kembali. Walaupun reaksi pertamanya terhadap alergi makanan mungkin tampak ringan, bukan tidak mungkin selanjutnya akan bertambah berat.

Selain menghindarkan bayi dari makanan yang dapat menimbulkan alergi, sebaiknya Ibu juga berkonsultasi dengan dokter anak untuk memperoleh informasi seputar tindakan yang harus dilakukan, termasuk petunjuk tentang bagaimana menangani reaksi alergi bayi.

Jika bayi Ibu menunjukkan gejala alergi ringan, dan reaksinya terjadi selang beberapa jam tertentu, konsultasikan dengan dokter anak agar pengujian alergi dapat dilakukan pada bayi Ibu. Dokter tentunya dapat menemukan penyebab alergi dari hal atau makanan tertentu yang tidak dapat dicerna oleh bayi.

Namun, jika bayi menunjukkan gejala seperti kesulitan bernafas, pembengkakan pada wajah atau bibirnya, muntah-muntah dengan frekuensi sering dan banyak, atau diare setelah makan, segeralah ke rumah sakit terdekat. Karena reaksi alergi ini bisa jadi sangat mematikan dan dibutuhkan tindakan medis sesegera mungkin.

Setelah masalah alergi pada bayi Ibu telah ditemukan oleh dokter anak, pastikan bahwa semua orang di rumah, termasuk pengasuh anak dan keluarga dekat mengetahui perihal alergi pada bayi Ibu sehingga mereka tahu apa yang tidak boleh dikonsumsi olehnya, dan tindakan yang perlu dilakukan ketika reaksi alergi terjadi.