Alternate Text
Mom's Pedia Balita

Mengenal Perkembangan Anak Usia 4 Tahun

Pagi-pagi, si Karen (4 tahun) sudah sibuk dengam aktivitasnya. Setelah mandi sendiri, ia kini pergi ke lemari bajunya dan sibuk memilih pakaian mana yang akan ia kenakan. “Hm, pake yang mana ya? Ini? Ini apa ini?” celotehnya sambil berlenggak lenggok. Sang Mama pun hanya tersenyum-senyum melihat ulahnya. 

Benar Bu. Di usia 4 tahun ini, anak seharusnya sudah bisa menguasai tugas atau aktivitas sendiri. Seperti menyisir rambut, memakai baju, mengambil sesuatu dari lemari, hingga makan dan minum sendiri. Ketrampilan untuk buang air kecil maupun besar pun sudah bisa ia lakukan sendiri dengan baik. Jadi, bagaimanakah perkembangan anak usia 4 tahun? Agar lebih mengenalinya, simak terus informasinya di bawah ini ya.

 

Dampak positif dari sikap kemandirian anak

Tentunya saat anak mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri, ini akan memberikan kelebihan bagi dirinya. Anak akan tumbuh aktif, kreatif, kompeten, tampak spontan serta tidak tergantung pada orang lain. 

Selain itu, jika kemandirian diajarkan di keluarga sejak dini, Ibu bisa lebih mudah membentuk generasi mendatang yang punya sikap mandiri, punya daya juang tinggi, kompetitif, punya daya pikir yang baik dan kemampuan menyampaikan aspirasinya pun meningkat. 

Manfaat positif lainnya ketika Ibu bisa konsisten dalam membangun kemandirian sejak dini, dalam kurun waktu tertentu ia pun akan siap bergabung dengan teman-temannya di sekolah. 

Untuk itu, penting bagi Ibu untuk menumbuhkan sikap kemandirian. Memang dorongan untuk mandiri sudah muncul sejak ia bayi. Mulai dari belajar tengkurap sendiri, merangkak, maupun berjalan. 

Namun adanya stimulasi cukup penting untuk terus merangsang sikap kemandiriannya. Berikut beberapa tips yang bisa Ibu lakukan untuk menumbuhkan anak mandiri. 

1. Lingkungan. Perhatikan lingkungannya apakah sudah bisa member contoh aktivitas belajar yang baik dan terus menumbuhkan dorongan belajar mandirinya? 

2. Beri contoh. Mendorong anak belajar paling efektif dan produkif jika dilakukan dengan contoh, dibanding hanya dengan menyuruhnya. 

3. Hindari ancaman. Upaya mendorongnya dengan ucapan verbal ini bisa membuat anak justru stress atau tertekan. 

4. Menghargai. Saat apa yang dilakukan anak diapresiasi, ia akan semakin percaya bahwa apa yang ia lakukan ternyata mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

Memang butuh kesabaran ekstra dari orangtua agar buah hati bisa melakukannya dengan sempurna. Selalu tunjukkan dukungan Ibu agar rasa percaya dirinya pun terus meningkat.