Pendidikan-karakter-anak
Mom's Pedia Balita

Membentuk Karakter Anak Sejak Kecil

Karakter seseorang terbentuk melalui proses panjang dalam hidupnya. Proses tersebut melibatkan banyak pengalaman dan interaksi dengan beragam orang sejak masa kecilnya. Peran orang tua adalah memfasilitasi si kecil agar mendapatkan pengalaman yang kaya sehingga membentuk karakter yang diharapkan. Pertanyaannya adalah, karakter seperti apa yang orang tua harapkan?

Setiap keluarga memiliki nilai yang mereka jalani dan kemudian mereka tanamkan pada anak-anak mereka. Setiap keluarga mungkin saja memiliki nilai yang berbeda-beda. Namun, tetap ada garis merah yang sekiranya hampir setiap keluarga menginginkan anaknya memiliki nilai tertentu yang kemudian membentuk karakter mereka. Beberapa diantaranya adalah kemampuan berpikir yang cepat tanggap, memiliki rasa peduli dan berempati yang baik, serta tanggap dalam bersosialisasi.

Setelah keluarga tahu nilai-nilai apa yang ingin ditanamkan pada anak-anak mereka, barulah orang tua dapat membantu si kecil dalam proses pembentukan karakter anak. Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua, antara lain:

  1. Ayah dan Ibu perlu memiliki pemahaman yang sejalan mengenai nilai yang mau mereka tanamkan pada si kecil. Di dalam keluarga, ketika kita ingin menerapkan sesuatu, akan sangat mudah dilakukan apabila seluruh keluarga berjalan ke arah yang sama. Ayah dan Ibu sebagai ‘motor penggerak’ perlu berjalan beriringan sehingga tujuan dapat tercapai dengan lebih mudah. Bayangkan apabila di rumah hanya Ibu yang berusaha mendidik anak, tanpa ada dukungan dari Ayah. Tentunya ketika Ibu menghadapi kendala, ia akan kesulitan mencari bantuan dan lebih besar kemungkinan untuk menyerah.
  2. Nilai perlu diterapkan sehari-hari, bukan hanya diajarkan sebagai teori. Anak belajar banyak melalui apa yang ia lihat dan ia lakukan sehari-hari. Memberikan pemahaman di awal secara kognitif melalui buku cerita, diskusi, dan bantuan film, sangat bisa dilakukan agar si kecil paham apa yang perlu ia lakukan. Namun, penerapan sehari-hari dapat menjadi pengulangan yang sangat membantu anak untuk mendalami nilai yang mereka pelajari tersebut.
  3. Nilai perlu diterapkan secara konsisten. Perilaku yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari dan menampilkan hal yang berlawanan dengan nilai yang ingin diajarkan, dapat membuat anak kebingungan. Misalnya: orang tua berharap si kecil memiliki rasa peduli terhadap lingkungan, tetapi orang tua masih kerap membuang sampah keluar dari kaca mobil ketika sedang bepergian.
  4. Nilai dapat berkembang seiring dengan perkembangan usia anak. Dalam menanamkan nilai pada si kecil, pertimbangkan pula usianya. Usahakan untuk menyesuaikan kemampuannya berdasarkan usianya. Misalnya, apabila di usia 2 tahun orang tua mau mengajarkan anak mengenai rasa peduli dengan berbagi mainan atau benda yang ia miliki dengan orang lain, nanti di usia 6 tahun, orang tua dapat mengembangkan rasa peduli anak dengan mengajarkannya untuk anak menawarkan bantuan kepada orang yang tampak membutuhkan bantuan.

Dengan menjalankan tips-tips di atas, diharapkan orang tua dapat membentuk karakter hebat si kecil yang cepat tanggap, memiliki rasa peduli, serta tanggap dalam bersosialisasi. Ayo kita bantu si kecil memiliki ketiga kemampuan tersebut, sehingga ia dapat menjadi seorang anak dengan tanggap yang lengkap!