Alternate Text
Tips & Advice Balita

Tips Membangun Karakter Besar Hati pada si Kecil

“Remess Campbell, 12 tahun, bukanlah tipikal anak lelaki yang biasa kita temui. Bila kebanyakan anak sebayanya hobi olahraga, menonton bioskop, bermain video game, atau jalan dengan teman-temannya, Remess menghabiskan waktu luangnya membuat boneka beruang untuk dibagikan pada anak-anak sakit. Sejak pertama kalinya belajar menjahit secara otodidak saat berusia 9 tahun, Remess sudah membuat lebih dari 800 boneka beruang.  Ibu Remess menyatakan bahwa anaknya memang tidak bisa melihat orang lain bersedih. Remess akan berusaha menebarkan kebahagiaan, sejauh yang ia bisa. Ia pun tidak mudah menyerah dalam mewujudkan keinginannya.”

(https://www.youtube.com/watch?v=n1Pbu2ZANGk)

Remess Campbell adalah salah satu contoh anak yang tidak sekedar punya kecakapan berpikir dan cepat tanggap, tetapi ia juga menunjukkan karakter besar hati. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga peduli dan ada dorongan yang begitu kuat untuk menolong orang lain. Melihat orang lain bahagia turut membuatnya senang, sehingga ia tidak keberatan mengorbankan waktu dan tenanganya untuk menjahit boneka-boneka tersebut.

Wah..hebat sekali ya! Sebagai orangtua, tentu kita ingin si kecil tumbuh menjadi pribadi dengan karakter positif seperti itu. Little kids with a big heart! Bagaimana cara membangun karakter besar hati pada anak? Berikut beberapa tipsnya.

 

Mengenalkan nilai-nilai positif melalui cerita

Sebelum anak bisa menunjukkan perilaku besar hati, ia perlu memahami dan merasa terlebih dahulu pentingnya perilaku tersebut. Kita dapat mengenalkan nilai ini pada si kecil melalui membaca buku atau menonton film, bahas bersama apa yang terjadi di dalam cerita. Untuk anak usia dini, tampilan visual dapat sangat membantu pemahaman akan suatu konsep yang abstrak.

 

Ajak si kecil mengamati apa yang terjadi di sekitarnya

Kejadian sehari-hari sangat bisa loh menjadi ajang belajar. Saat kita sedang berjalan-jalan dengan si kecil, ajak anak mengamati dan membaca situasi di sekelilingnya.  Mungkin ada anak yang menangis di taman, penjaga tol yang tidak ramah, tukang sapu yang bekerja di bawah terik matahari, orang yang kebingungan cari tempat duduk di restoran yang penuh, ibu yang jalannya pakai kursi roda, dan sebagainya. Tanyakan “Menurut kamu mengapa ya anaknya menangis?” “Menurut kamu apa rasanya harus bekerja di cuaca yang panas seperti ini?” “Apa kira-kira yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka merasa lebih baik?” “Apa ya kira-kira yang mereka rasakan kalau kita memberi bantuan?” Jelaskan pada mereka bahwa berbuat baik pada orang lain, seperti memberi senyuman, mengucapkan terima kasih, menyediakan air minum yang dingin, menunjukkan bahwa kita memperhatikan mereka dan ingin membuat mereka lebih senang. Biasanya, sekitar usia 3 tahun anak sudah mulai bisa diajak diskusi seperti ini.

 

Lakukan Project / Permainan Keluarga

Kita bisa ajak si kecil melakukan suatu project untuk menanamkan kebiasaan berbesar hati. Contohnya, membuat kartu ucapan cepat sembuh untuk temannya yang sedang sakit, atau memilih mainan dan baju layak pakai untuk disumbangkan ke panti asuhan. Si kecil pun bisa belajar bahwa ia bagian dari lingkungan dan menyadari bahwa apa yang ia lakukan berdampak pada orang lain. Jangan lupa beri apresiasi ya saat ia menunjukkan keinginan untuk membantu orang lain, dan tanyakan apa yang ia rasakan ketika tindakannya membuat orang lain bahagia.

Permainan “Kartu Sayang” juga menarik untuk membentuk karakter positif anak, sekaligus meningkatkan kelekatan kita dengan si kecil. Cara bermainnya, letakkan potongan-potongan kertas di toples bertuliskan “berpelukan dengan kakak/adik”, “tawarkan bantuan ke Ibu”, “beri pujian ke Ayah” dan lainnya. Setiap malam, ajak si Kecil mengambil 1, membaca dengan keras (atau dibacakan), lalu bantu melakukan apa yang diminta.  Lakukan secara bergiliran untuk semua anggota keluarga.

 

Terbuka dengan emosi

Anak yang perasaannya dipahami, akan lebih berupaya untuk memahami perasaan orang lain. Saat anak mengalami sesuatu, hindari mengabaikan atau mengecilkan perasaannya. Alih-alih berkata “ah gitu aja nangis, jangan cengeng” saat anak mengadu kakinya sakit karena terjatuh, kita bisa berkata “kamu sakit? Bagian mananya? Kita bisa apa ya supaya sakitnya berkurang?”Banyak-banyak yuk mengobrol dengan si kecil, apa yang membuat ia senang, sedih, kesal, atau takut.

 

Beri dukungan dan kesempatan

Jika tujuan pengasuhan kita adalah membesarkan anak yang punya kebesaran hati, tentu penting untuk memberinya dukungan dan kesempatan. Kembali ke contoh cerita di awal, terbayang tidak bila ibu Campbell memaksanya agar menggunakan waktu luang untuk bermain yang lebih ‘anak lelaki’? Atau tidak memfasilitasi Campbell dengan mesin jahit? Tentu Campbell tidak bisa berkarya seperti itu ya. Jadi saat si Kecil berkata ingin berbagi sebagian bekalnya untuk teman, kita bisa membawakan lebih.

 

Jadilah model yang baik bagi si kecil

Kebaikan dan kebesaran hati adalah perilaku yang dipelajari. Si Kecil akan mengamati bagaimana orang-orang dewasa di sekitarnya memperlakukan orang lain, dan kita sebagai orangtua adalah model yang paling penting. Saat kita membagi sisa kue kita pada si Kecil karena kuenya jatuh, saat kita mengucapkan tolong dan terima kasih pada asisten rumah tangga yang menyiapkan masakan, saat kita memberikan tempat duduk kita di kereta untuk seorang nenek, si kecil mengamati dan merekam dalam benaknya.

 

Membentuk karakter positif pada diri si kecil bukanlah sesuatu yang instan. Pembiasaan dari rutinitas sehari-hari dan panutan yang anak dapatkan adalah kunci. Semangat ya ayah ibu!