Tips & Advice Balita

Mendidik Anak di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan umum dijadikan sebagai waktu yang tepat untuk mengajarkan si kecil mengenai perilaku-perilaku hebat seperti bersabar, menahan diri, membantu orang lain, kebersamaan, dan hal positif lainnya. Meski mengajarkan hal-hal tersebut tidak terbatas hanya pada saat bulan Ramadhan, namun bulan ini adalah periode waktu dimana penanaman nilai-nilai hebat menjadi lebih intensif.

Anak hebat adalah anak yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi, tapi juga yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) yang sama tingginya. Kecerdasan intelektual membantu anak untuk berpikir, belajar, dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sedangkan kecerdasan emosional membantu anak untuk mengidentifikasi perasaan yang dialami diri sendiri dan orang lain untuk kemudian membantunya bersikap dalam lingkungan sosial.

Selama bulan Ramadan ini, adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan pengalaman belajar si kecil akan nilai-nilai serta aturan agama. Ajarkan anak bagaimana di dalam kitab suci, di dalam cerita-cerita tentang Nabi, dapat ditemukan pesan-pesan tentang bagaimana seseorang menghadapi dan menyelesaikan masalah tertentu. Ajarkan juga mengenai kebiasaan-kebiasaan beragama yang dilakukan, seperti berpuasa dan salat serta apa manfaatnya bagi tubuh orang yang melakukan. Melalui hal-hal yang dilakukan setiap hari inilah anak akan mudah meniru perilaku serta memahami pentingnya kegiatan tersebut.

Rutinitas yang dijalani selama bulan Ramadan, seperti sahur, berpuasa, menyiapkan makanan untuk berbuka, salat berjamaah ke tempat ibadah, membantu orang lain, berbagi makanan, dan juga menghormati mereka yang tidak berpuasa adalah kesempatan yang baik untuk membantu si kecil menjadi hebat. Si kecil akan belajar tentang disiplin dan keteraturan melalui rutinitas yang dilakukan. Ia juga akan belajar tentang empati dan kerukunan hidup beragama bersama orang-orang lain yang memiliki keyakinan dan kebiasaan yang berbeda dengan dirinya.

Berbagi makanan kepada kaum yang tidak mampu, membuat acara buka puasa bersama dengan anak yatim atau fakir miskin, akan menjadi pengalaman yang berharga dan bermanfaat bagi anak untuk mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Ia akan belajar secara langsung, bahwa ada orang-orang yang berbeda dari dirinya dan bagaimana ia harus bersikap atas perbedaan tersebut. Ayah dan Ibu bisa membantu anak mengembangkan rasa kepeduliannya terhadap sesama dengan memberikan contoh.  Perbanyak sedekah dan berbagi kepada orang yang kurang beruntung.

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan, terutama di bulan Ramadan, untuk mengembangkan kecerdasan intelektual si kecil adalah dengan mengajarkannya bacaan doa-doa. Hasil penelitian dari Flom dkk (2014) menyatakan bahwa sejak bayi berusia 5 bulan, ia sudah bisa menghafal dan mengingat apa yang diajarkan kepadanya, asal proses pengajarannya dilakukan dalam situasi yang positif dan menyenangkan. Fivush, Gray, & Fromhoff (1987) mengemukakan bahwa mulai anak berusia 2 tahun, ia mampu mengingat dan menghafal informasi melalui kebiasaan dan pengulangan. Oleh karena itu, mulai biasakan anak untuk berdoa dan berikan ia pengalaman yang menyenangkan. Misalnya mau mengajarkan tentang doa sebelum makan. Biasakan bersama-sama dan diucapkan dengan suara keras doanya setiap kali akan makan. Bila anak sudah hafal, baru kenalkan dengan doa lainnya. Lakukan dengan cara diulang, diulang, dan diulang, serta konsisten diucapkan setiap akan melakukan kegiatan tertentu. Selamat beribadah!