Mom's Pedia Balita

Perkembangan Kognitif Anak Usia 3 Tahun

Abcdefg-hijklmn…”, senandung si Kecil sambil matanya melihat ke poster angka yang ada di dinding. Tak hanya huruf, deretan angka pun sepertinya sudah ada di luar kepala. Wah rasanya perkembangan kognitif anak usia 1 tahun Ibu yang sudah 3 tahun pesat sekali ya. Yuk cari tahu lebih lanjut!

Menginjak usia ketiga, si Kecil berada pada tahap Preoperational Stage. Di mana anak mulai merepresentasikan dunianya dengan kata serta gambar yang mencerminkan pemikiran simboliknya. 

Ia mampu mempertimbangkan besar, jumlah, bentuk dan benda-benda melalui pengalaman konkrit serta mengerjakan tugas yang melibatkan konsep angka.  Selain itu di masa ini si Kecil sedang mengalami golden age.  Jadi ia cepat menerima informasi yang ia dapat  dengan optimal sesuai pesatnya jumlah neuron yang semakin bertambah. 

Nah, apa saja stimulasi tepat yang perlu Ibu lakukan? 

- Bacakan cerita. Ajak ia membaca buku di tiap waktu luang minimal 5 menit. Dengan ini, rasa ingin tahu si Kecil akan tumbuh lebih besar dan kosakata jauh lebih banyak. 

- Perbanyak angka dan huruf di rumah. Tempel nama anak di pintu kamar, pasang karpet bermain bertulis angka atau huruf, atau menempel magnet dengan huruf dan angka. 

- Flash card. Gunakan kreativitas Ibu untuk membuat dari karton bekas yang bertuliskan huruf dan angka. Tunjukkan huruf/angka pada si Kecil secara teratur.  

- Kenalkan huruf yang banyak ditemui dalam keseharian si Kecil. Misal B untuk bola. Untuk berhitung Ibu bisa mengajaknya menghitung jumlah mainannya, menyusun balok, menemukan kata-kata di label kemasan, koran, majalah hingga papan billboard atau etalase toko. 

- Hindari memaksa. Buat kegiatan belajar ini menyenangkan ya Bu. Jika si Kecil terlihat bosan, ganti dengan permainan lain yang ia sukai. 

- Perhatikan mood si Kecil. Jadi, Ibu juga harus pintar dalam memilih waktu belajarnya. 

Tapi bukannya sekarang banyak beredar berita mengenai larangan calistung untuk anak usia dini ya? Beberapa memang menghubungkannya dengan “mental hectic”. Yaitu kekacauan mental, rasa tertekan hingga akhirnya ia tak mau lagi belajar apapun. Lalu?

Tenang Bu. Yang terpenting, prioritaskan untuk sekedar mengenalkan kegiatan membaca dan menumbuhkan minat belajarnya. 

Hindari menargetkan agar anak bisa membaca atau menulis ya. Jadi, jangan memaksakan penguasaan atau target tertentu pada si Kecil agar otaknya bekerja berat.