Tips & Advice Balita

Peran Ibu Tumbuhkan Si Kecil Hebat

Anak hebat adalah anak yang cepat tanggap dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya dan  menjadikan anak kita anak yang hebat adalah impian semua orangtua. Untuk dapat menyeimbangkan kedua hal tersebut, seorang anak perlu memiliki kecerdasan emosional yang baik. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali emosi yang dirasakan serta mengekspresikan dan meregulasinya dengan tepat serta berempati terhadap orang lain (Romanelli, Cain, & Smith, 2006). Peran ibu sebagai pendidik pertama di lingkungan keluarga menjadi sangat penting untuk menumbuhkan anak yang cerdas intelektual dan cerdas emosi, agar anak bisa berhasil menghadapi tantangan di kehidupan sehari-hari.

Penelitan oleh Lam & Kirby (2002), mengatakan bahwa murid yang memiliki kecerdasan emosional cenderung memiliki performa akademis yang lebih tinggi. Murid yang menerima kurikulum khusus yang bertujuan mengembangkan kemampuan kecerdasan emosionalnya menunjukkan peningkatan pada performa akademisnya (Jaeger, 2003). Oleh karena itu fokus pendidikan yang diberikan pada anak tidak hanya untuk meningkatkan kecerdasan intelektualnya saja, tapi juga untuk meningkatkan kecerdasan emosionalnya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan ibu untuk menumbuhkan si kecil hebat, yang cepat tanggap dan memiliki rasa peduli adalah sebagai berikut:

1. Bantu anak mengenali emosi yang dirasakan dan pemicunya

Si Kecil yang belum bisa mengenali dan menceritakan perasaannya cenderung mengekspresikan diri dengan cara yang kurang tepat, seperti memukul, melempar barang, menggigit, dan lainnya. Sebelum anak bisa bercerita secara verbal tentang apa yang mereka rasakan, ibu perlu bantu mereka dalam mengidentifikasi emosi apa yang dirasakan. Misal saat anak melempar barang ketika diminta menyudahi permainannya, orangtua bisa katakan, “Kakak kesal ya masih ingin main tapi sudah harus diselesaikan karena waktunya mandi.

 2. Ajari anak cara-cara meregulasi emosi, terutama emosi negatif

Ketika anak sudah mampu mengenali emosi yang dirasakan serta mengekspresikannya secara verbal, maka akan lebih mudah pula bagi anak untuk meminta bantuan Ibu dalam menyelesaikan perasaan negatifnya tersebut. Ajari anak beberapa hal yang bisa mereka lakukan untuk menenangkan diri, misal dengan memeluk, bernyanyi, mengatur napas, melempar bola atau menghancurkan balok yang memang sudah disediakan sebagai sarana pelampiasan rasa marah yang aman.

 3. Ajak anak mengenali emosi dan kondisi yang sedang dialami orang lain

Melalui buku cerita atau film atau kejadian yang terjadi di lingkungan sekitar, Ibu bisa melatih kemampuan anak berempati, mengenali apa yang sedang dialami orang lain serta memahami kondisi tersebut. Misalnya ketika sedang bermain di taman dan melihat ada anak yang jatuh dari perosotan lalu menangis. Ibu  bisa mengajak anak diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “Itu temannya menangis kenapa ya? Kira-kira kalau kamu mengalami apa yang dialami dia, apa yang kamu butuhkan untuk bisa merasa lebih baik?” Dengan membuat anak peka terhadap kondisi orang lain diharapkan kesadaran dan keinginan anak untuk membantu orang lain pun akan meningkat. Jangan lupa berikan pujian ketika anak mampu secara nyata membantu orang lain.

 4. Jadi panutan

Children see, children do. Ya, Si Kecil belajar paling baik dan paling cepat dengan meniru orang lain. Ketika yang dilihat berbeda antara ucapan dan perilaku, seseorang akan cenderung meniru apa yang terlihat, bukan apa yang didengar. Tumbuhkan Si Kecil menjadi cepat tanggap dan memiliki rasa peduli dimulai dari ibu yang juga menampilkan perilaku cepat tanggap dan memiliki rasa peduli terhadap orang lain dan lingkungan.

 

Si Kecil Hebat yang memiliki kecerdasan emosional berupa cepat tanggap dan peduli pada lingkungan sosial akan membantu dirinya nanti dalam bersosialisasi, terutama ketika sudah memasuki usia sekolah dasar. Tuntutan lingkungan yang lebih tinggi, terutama secara akademik, akan lebih bisa diatasi oleh Si Kecil ketika dalam kesehariannya perilaku yang dimunculkan tidak melulu dikuasai oleh emosinya. Menumbuhkan kecerdasan emosional sejak dini, didampingi pula dengan menumbuhkan kecerdasan intelektualnya, akan membantu Si Kecil menghadapi tantangan di ke depannya.

 

Sumber:

Jaeger AJ. Job competencies and the curriculum: An inquiry into emotional intelligence in graduate professional education. Res Higher Educ. 2003;44:615–39.

Lam LT, Kirby SL. Is emotional intelligence an advantage? An exploration of the impact of emotional and general intelligence on individual performance. J Soc Psychol. 2002;142:133–43. [PubMed]

Romanelli, F., Cain, J., & Smith, K. (2006). Emotional intelligence as a predictor or academic and/or professional success. American Journal of Pharmaceutical Education: 2006 Jun  15; 70 (3): 69.