Tips & Advice Balita

Serunya Menunggu Buka Puasa Bersama Anak

“Ma, sekarang sudah jam berapa?

“Berapa menit lagi ya buka?"

"Udah bedug belum ya, Ma?"

"Kalau aku cicip sedikiiit aja batal gak, Ma?"

Kira-kira begitulah kalimat yang kerap didengar orangtua ketika buah hatinya baru belajar puasa di bulan Ramadhan. Mengajak si kecil menahan lapar dan haus sehari penuh memang bukan hal yang mudah. Tetapi dengan pengertian dari orangtua dan beragam pilihan aktivitas yang dapat dilakukan bersama, si kecil dapat menikmati kegiatan berpuasa tanpa terlalu banyak hambatan.

Sebenarnya kegiatan apa saja kah yang bisa dilakukan orangtua dan anak selama bulan puasa? Apakah sebaiknya hanya yang berkaitan dengan penanaman ilmu agama saja, seperti belajar mengaji dan berdoa? Atau orangtua bisa mengajak anak bermain seperti biasa? Bagaimana kalau anak menjadi kelelahan dan akhirnya ‘menyerah’ ingin berbuka puasa sebelum waktunya?

Berikut adalah beberapa pilihan kegiatan yang dapat dilakukan oleh orangtua dan anak dalam menunggu waktu berbuka puasa. Kegiatan-kegiatan di bawah ini selain dapat memberikan stimulasi yang mengembangkan kecerdasan berpikir (IQ), juga mengembangkan kecerdasan emosi (EQ) anak.

1. Menyiapkan hidangan berbuka puasa

Kegiatan yang ditunggu-tunggu ketika waktu berbuka salah satunya adalah menyantap makanan lezat beraneka ragam. Oleh karena itu, melibatkan anak dalam menyiapkan hidangan berbuka puasa dapat menjadi pilihan kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan bersama-sama. Dengan membantu ibu menyiapkan hidangan berbuka puasa, anak dapat belajar mengenai beragam jenis makanan, cara membuatnya, dan proses pembuatannya. Selain itu, ketika memasak, anak juga dapat belajar hitung-hitungan sederhana seperti belajar menimbang gula dan tepung, membagi adonan menjadi beberapa bagian, serta belajar penjumlahan sederhana. Selain mengasah kemampuan berpikirnya, anak juga diajak mengasah kecerdasan emosinya melalui membantu orang lain (ibu atau asisten rumah tangga), serta merasakan kegiatan melayani orang lain (ayah atau adik yang menyantap makanan yang ia hidangkan).

2.Memilah pakaian bekas dan layak pakai untuk disumbangkan

Menjelang hari raya cukup banyak keluarga yang membeli pakaian baru untuk dikenakan di hari raya. Ketika pakaian kita bertambah, ada baiknya kita menyisihkan pakaian lama yang sudah tidak terpakai tetapi masih dalam kondisi layak pakai untuk disumbangkan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Kesempatan ini dapat digunakan oleh orangtua untuk mengajarkan anak pentingnya berbagi dan merelakan benda kesukaannya untuk diberikan kepada orang lain karena memang anak sudah tidak membutuhkannya lagi (misalnya baju yang sudah terlalu kecil ukurannya).

3. Belajar nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari

Di suasana Ramadhan, semangat setiap orang untuk menunaikan ibadah menjadi lebih terpacu. Ada baiknya hal baik tersebut ditularkan kepada anak melalui hal-hal sederhana yang disukai anak, seperti membaca cerita mengenai nabi dan mengambil pelajaran dari hal baik yang dilakukan para nabi.

4. Menyiapkan hantaran untuk hari raya

Salah satu budaya yang ada di sekitar bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri adalah saling mengirimkan hantaran atau bingkisan untuk kerabat dan keluarga. Orangtua dan anak dapat mengembangkan kreativitas dengan membuat sendiri hantaran, seperti kue kering dan kartu ucapan sederhana.  Selain meningkatkan kreativitas, kegiatan tersebut juga menumbuhkan rasa senang berbagi pada sesama.

5. Membuat sendiri mainan anak

Selain kegiatan yang berkaitan dengan agama, orangtua dan anak juga tetap bisa melakukan kegiatan yang lain yang tak kalah bermanfaat dan juga menyenangkan seperti membuat mainan sendiri. Setiap anak pasti senang ketika memiliki mainan baru di rumahnya. Tapi mainan baru itu tidak perlu selalu beli, bisa juga lho kita membuat mainan sendiri. Orangtua dapat bernostalgia dengan membuat mainan di masa kecilnya, seperti telepon-teleponan dari kaleng, senapan dari pelepah pisang, atau eggrang dari kaleng. Selain itu, saat ini orangtua dan anak dapat kemudahan akses untuk mendapatkan ide begitu banyak dari internet atau buku-buku yang dijual bebas. Dengan membuat mainan sendiri, anak menjadi lebih menghargai proses dan sehingga ia dapat lebih memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat mainannya.

6. Berolahraga di sekitar rumah

Kegiatan penting yang juga tidak boleh ditinggalkan ketika berpuasa di bulan Ramadhan adalah berolahraga. Namun, agar anak tidak kelelahan dan merasa haus sehingga ingin segera membatalkan puasanya, ada baiknya kita memilih olahraga yang cukup ringan dan dilakukan sore hari menjelang berbuka puasa. Olahraganya dapat berupa naik sepeda keliling kompleks rumah, bermain bulu tangkis, atau sekedar berjalan kaki di taman. Ketika melakukan olah raga bersama, Orangtua dan anak dapat menyehatkan tubuh, serta meningkatkan hubungan emosi antara orangtua dan anak.

Dengan beragam kegiatan yang dapat dilakukan orangtua dan anak selama menunggu buka puasa, anak diharapkan dapat lebih menikmati masa-masa beribadah di bulan Ramadhan. Selain itu juga mendapatkan bonus stimulasi untuk perkembangan kecerdasan intelektual dan emosinya. Selamat mencoba!